Langsung ke konten utama

McD Watugong

Dulu, pernah akrab dengan McD Watugong, adzan subuh, obrolan bergizi seputar pergerakan kanan kiri, ide kontribusi pada negeri, taktik branding agar jualan tak merugi, serta tidak lupa mengomentari trend modern love anak muda yang kerap bikin geleng-geleng sendiri.

Dulu, sering pulang pagi dan kedinginan karena harus nyetir pulang ke Singosari. Tapi tidak menyesal sedikitpun karena semuanya mengantarkan saya hingga titik sekarang.
Dari pertemuan dan obrolan-obrolan itu, saya belajar untuk terus menjalin relasi, mempertajam intuisi, dan menggali ilmu selagi mampu.

Tapi, setiap orang punya cara dan privilege-nya sendiri dalam menciptakan "peluang"

Bagi yang terlahir dari keluarga super mapan, akses untuk ekspansi bisnis pastilah mudah. Funding bukan menjadi masalah. Nggak perlu begadang nyari kerja frilens ngalor ngidul untuk memperkaya CV, karpet merah sudah di depan mata.

Namun bagi yang terlahir dari keluarga menengah ke bawah, mencuri hati recruiter harus diraih dengan CV bagus. Sarapan paginya bukan berisi "peluang" yang disuapi oleh orang tua, melainkan didapat dari relasi yang kuat. Mengikuti himpunan, organisasi, kerja sambilan, semuanya bergantian digeluti agar tetap mengisi pundi-pundi ekonomi.

Semoga...
Semoga kita bisa lebih menghargai manusia dari kerja kerasnya dan mengesampingkan stereotip.
Anak laki pulang malam belum tentu mabuk-mabukan.
Anak perempuan pulang malam belum tentu menjajakan diri.
Suami lembur bukan berarti lupa rumah dan keluarga.

Setiap orang punya beban hidup masing-masing.
Mari saring meringankan, bukan malah nambahin beban.

Ditulis karena baru saja mengobrol dengan @lexyeal_ hingga subuh lagi. Bedanya, obrolan kami hanya via wasap call, bukan di McD.
Soalnya anak perempuan gaboleh pulang malam. 🙇🏻‍♀️

Beda banget dulu kalau sama papa, ke McD buat merayakan ulang tahunku, atau kegiatan rutin tiap akhir pekan. Sekadar beli ais krim, main prosotan, dan jejingkrakan dengan teman sebaya. Sementara mama dan papa asik kencan.

McD sekarang bagi saya karib hubungannya dengan tugas, obrolan kehidupan, dan peluang-peluang masa depan.

Rasanya, saya rindu meneguk segelas McFlurry tanpa harus bingung soal hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I would hate you if I could

I would hate you, I would hate you if I could. But, before I hate you like you hate me, I would like to ask a question: Has any of your hate made your life better? Because my father never teach me to hate people based on religion, race, wealth, gender, sexual orientation, careers, and another society structures. OR even teach me to hate people based on MY OWN FEELINGS ONLY. Tapi entahlah ya. Mungkin memang ada orang-orang yang bahan bakar kebahagiaan dan semangat hidupnya terbuat dari api kebencian. Cara memadamkannya? Diguyur kebaikan dan kebaikan teruuus. Pertanyaannya, "Walau kering, bisakah saya tetap membasuh? Atau tetap mengobati walau membiru?" Bisakah?

Tuhan, earphone, dan naik haji di RCTI

Selain meyakini bahwa bumi itu bulat, dan kecoak adalah makhluk luar angkasa karena ahli banget bersembunyi setelah ketauan kita pandangi, saya juga meyakini beberapa hal lain. Salah satunya adalah, "kedalaman seseorang pada agama akan membuatnya menjadi makhluk yang mampu menghargai orang lain." Sebab, agama ada sebagai cahaya, bukan malah mendorong ke sisi gelap. Agama hadir sebagai petunjuk, bukan membuat seseorang terpuruk. Agama mengajarkan kita untuk berbuat baik. Misal: menuntun orang lain yang masih belum cukup baik. "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)". QS. Ar-Rahman: 60 Tapi pada praktiknya, semakin dalam seseorang dalam memahami agama, kebanyakan malah menganggap dirinya sudah suci dan jauh lebih baik sehingga tidak mau menuntun orang lain yang belum cukup baik. Pada praktiknya, semakin sering seseorang ke tanah suci, semakin renggang hubungannya dengan relasi karena sepulangnya dari tanah suci, mereka sibuk mencaci. "Ah kamu k...