I would hate you, I would hate you if I could. But, before I hate you like you hate me, I would like to ask a question: Has any of your hate made your life better? Because my father never teach me to hate people based on religion, race, wealth, gender, sexual orientation, careers, and another society structures. OR even teach me to hate people based on MY OWN FEELINGS ONLY. Tapi entahlah ya. Mungkin memang ada orang-orang yang bahan bakar kebahagiaan dan semangat hidupnya terbuat dari api kebencian. Cara memadamkannya? Diguyur kebaikan dan kebaikan teruuus. Pertanyaannya, "Walau kering, bisakah saya tetap membasuh? Atau tetap mengobati walau membiru?" Bisakah?
September lalu, saya hampir saja berhasil temu kangen dengan papa. Tapi tubuh saya ternyata punya sistem pertahanan yang cukup baik dan Tuhan sepertinya terlalu sayang dengan hambanya yang ceroboh ini. Kalau Tuhan bisa membentak saya langsung, mungkin yang beliau ucapkan adalah: "Hadeeeh gitu aja minta istirahat?! Coba lagi. Usaha lagi. Kamu bisa lebih dari ini. Ayo, sedikit lagi." Kalau papa masih ada dan tau saya seceroboh itu, pasti beliau sudah heboh mengantar ke RS. Awal Bros sebagaimana waktu saya batuk, flu, dan operasi amandel. Kalau papa masih ada, keluarga saya mungkin akan baik-baik saja dan saya bisa tumbuh di lingkungan yang sama dengan mereka yang menganggap derajatnya lebih tinggi dari saya. Saya nggak bermaksud untuk mendahului takdir. Sore itu, saya hanya ingin pulang lebih cepat dari kantor setelah beberapa waktu berjuang untuk tetap baik-baik saja walau ada berita cukup menyedihkan berlatar belakang "feeling" dan tak bisa dinalar logika. Sore...