September lalu, saya hampir saja berhasil temu kangen dengan papa. Tapi tubuh saya ternyata punya sistem pertahanan yang cukup baik dan Tuhan sepertinya terlalu sayang dengan hambanya yang ceroboh ini.
Kalau Tuhan bisa membentak saya langsung, mungkin yang beliau ucapkan adalah: "Hadeeeh gitu aja minta istirahat?! Coba lagi. Usaha lagi. Kamu bisa lebih dari ini. Ayo, sedikit lagi."
Kalau papa masih ada dan tau saya seceroboh itu, pasti beliau sudah heboh mengantar ke RS. Awal Bros sebagaimana waktu saya batuk, flu, dan operasi amandel.
Kalau papa masih ada, keluarga saya mungkin akan baik-baik saja dan saya bisa tumbuh di lingkungan yang sama dengan mereka yang menganggap derajatnya lebih tinggi dari saya.
Saya nggak bermaksud untuk mendahului takdir. Sore itu, saya hanya ingin pulang lebih cepat dari kantor setelah beberapa waktu berjuang untuk tetap baik-baik saja walau ada berita cukup menyedihkan berlatar belakang "feeling" dan tak bisa dinalar logika.
Sore itu saya cuma ingin pulang, cuci muka, gosok gigi, evaluasi. Lalu tidur sejenak menemui esok pagi. Karena walau letih hari ini, saya masih ingin menjalani esok hari.
Kecerobohan saya sore itu sesungguhnya sudah terdeteksi oleh smartwatch di pergelangan tangan. Detak jantung saya melambat dan pandangan saya berkunang-kunang sementara perjalanan Malang - Singosari berisi truk dan bis antar provinsi. Situasi yang sebenarnya cukup bagus untuk mengenyahkan saya dari bumi, seperti keinginan seseorang agar kami tidak perlu bersinggungan lagi.
Perlahan, saya semakin nekat melanjutkan perjalanan padahal yang seharusnya saya lakukan adalah menepi dan rehat sejenak.
Yang saya pikirkan waktu itu adalah:
Hari ini, orang yang tidak menginginkan kehadiran saya sedang ulang tahun. Mungkin, kado tas rajut dan surat ucapan tidak pas untuknya. Mungkin, yang diinginkan adalah ketidakhadiran saya untuk sekarang dan selamanya. (Iya, drama banget. Tapi kemarin sikap normal saya juga dibilang mendramatisir. Jadi yasudah, sekalian saja.)
Malam itu, rekan terbaik saya datang menghampiri karena paham betul dengan kondisi saya.
Pukul 9 malam lebih saya tiba di rumah.
Saya menangis sejadi-jadinya.
Sementara di sana, mereka tersenyum penuh kebahagiaan. Merayakan pertambahan umur, dan selangkah lebih dekat pada surga.
Malam itu saya merengek minta maaf pada diri sendiri.
Di sana, mereka merasa paling suci dan benar sendiri. Bermodalkan pangkat "mama" dan "papa", mereka sibuk mengadili.
Saya menghabiskan malam dengan mendekap tubuh yang penuh peluh.
Di sana, mereka duduk dengan perut penuh.
Saya memejamkan mata, berdoa semoga bertemu papa.
Di sana, mereka berdoa untuk sebuah kavling di surga, tapi mencaci pada sesama manusia.
Padahal, masuk surga atau neraka bukan keputusan mama papa.
Padahal, mama papa juga belum tentu masuk surga.
Komentar
Posting Komentar