Langsung ke konten utama

Kain putih di hari raya

Sejak TK, SD, hingga SMP, saya ingat betul.
Sesibuk-sibuknya papa di kantor, sampai rumah tetep nyempetin buat main kelinci bareng dan dengerin saya ngoceh tentang lomba cerdas cermat yang sudah di depan mata. Sementara mama, nggak bosen-bosen nyiapin air panas buat papa dan mengukus sayur agar kolesterol papa tidak semakin tinggi, sembari memastikan semua buku pelajaran saya untuk esok hari sudah masuk tas dan tersusun rapi.

Memasuki usia pekerja seperti sekarang membuat saya termenung, apakah bisa saya membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan seperti papa? Apakah saya harus berhenti bekerja saat sudah berkeluarga seperti mama yang mau ikut papa merantau mulai dari ujung timur Indonesia sampai sumatera?

Dan yang paling nelangsa, saya sampai sekarang masih belum pernah gantian nraktir papa beli bakso, ikan bakar, dan kuliner-kuliner yang dulu sering kami lahap berdua. Saya belum kebagian jatah beliin tiket liburan untuk beliau, sebagaimana dulu beliau selalu rutin nyempetin liburan meski sekedar road trip ke pantai Trikora. Saya belum pernah melihat senyum sumringah beliau saat keluar dari fitting room ketika saya pilihkan baju hari raya. Satu-satunya yang saya ingat adalah wajah tenang beliau di balik helai demi helai kain putih, tapi tidak dipakai di hari raya. Hari itu, yang kami rayakan adalah perpisahan.

Saya sadar, bahwa quality time sungguh mahal harganya dan selagi bisa mengutarakan rasa rindu maupun sayang pada mereka yang terkasih, lekas lakukan. Peluk sekencang-kencangnya selagi bisa. Sesederhana apapun, utarakan. Meski ada resiko bosan, itu lebih baik daripada penyesalan.
Karena kalau sudah tidak bisa lagi, maka yang tersisa hanyalah tangis tiap kali mendengarkan Pilu Membiru oleh Kunto Aji: "Masih banyak yang belum sempat aku katakan padamu.."

Jurnal
5 Juli 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

McD Watugong

Dulu, pernah akrab dengan McD Watugong, adzan subuh, obrolan bergizi seputar pergerakan kanan kiri, ide kontribusi pada negeri, taktik branding agar jualan tak merugi, serta tidak lupa mengomentari trend modern love anak muda yang kerap bikin geleng-geleng sendiri. Dulu, sering pulang pagi dan kedinginan karena harus nyetir pulang ke Singosari. Tapi tidak menyesal sedikitpun karena semuanya mengantarkan saya hingga titik sekarang. Dari pertemuan dan obrolan-obrolan itu, saya belajar untuk terus menjalin relasi, mempertajam intuisi, dan menggali ilmu selagi mampu. Tapi, setiap orang punya cara dan privilege-nya sendiri dalam menciptakan "peluang" Bagi yang terlahir dari keluarga super mapan, akses untuk ekspansi bisnis pastilah mudah. Funding bukan menjadi masalah. Nggak perlu begadang nyari kerja frilens ngalor ngidul untuk memperkaya CV, karpet merah sudah di depan mata. Namun bagi yang terlahir dari keluarga menengah ke bawah, mencuri hati recruiter harus diraih dengan...

I would hate you if I could

I would hate you, I would hate you if I could. But, before I hate you like you hate me, I would like to ask a question: Has any of your hate made your life better? Because my father never teach me to hate people based on religion, race, wealth, gender, sexual orientation, careers, and another society structures. OR even teach me to hate people based on MY OWN FEELINGS ONLY. Tapi entahlah ya. Mungkin memang ada orang-orang yang bahan bakar kebahagiaan dan semangat hidupnya terbuat dari api kebencian. Cara memadamkannya? Diguyur kebaikan dan kebaikan teruuus. Pertanyaannya, "Walau kering, bisakah saya tetap membasuh? Atau tetap mengobati walau membiru?" Bisakah?

Tuhan, earphone, dan naik haji di RCTI

Selain meyakini bahwa bumi itu bulat, dan kecoak adalah makhluk luar angkasa karena ahli banget bersembunyi setelah ketauan kita pandangi, saya juga meyakini beberapa hal lain. Salah satunya adalah, "kedalaman seseorang pada agama akan membuatnya menjadi makhluk yang mampu menghargai orang lain." Sebab, agama ada sebagai cahaya, bukan malah mendorong ke sisi gelap. Agama hadir sebagai petunjuk, bukan membuat seseorang terpuruk. Agama mengajarkan kita untuk berbuat baik. Misal: menuntun orang lain yang masih belum cukup baik. "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)". QS. Ar-Rahman: 60 Tapi pada praktiknya, semakin dalam seseorang dalam memahami agama, kebanyakan malah menganggap dirinya sudah suci dan jauh lebih baik sehingga tidak mau menuntun orang lain yang belum cukup baik. Pada praktiknya, semakin sering seseorang ke tanah suci, semakin renggang hubungannya dengan relasi karena sepulangnya dari tanah suci, mereka sibuk mencaci. "Ah kamu k...