Langsung ke konten utama

Mukadimah

Meski hello-father hanyalah sebuah blog sederhana dan cenderung tidak penting-penting amat untuk dibaca, namun izinkan saya untuk memperlakukannya sebagaimana sebuah naskah perhelatan acara penting yang memiliki sepatah dua patah kata sambutan atau kerap disebut "mukadimah."

Jadi, izinkan saya memulai mukadimah, ya.

"Pada kesempatan yang kebetulan cukup menyenangkan ini, izinkan saya mengutarakan rasa terima kasih pada Papa saya karena tanpa kepergian beliau, mungkin saya hanya akan menjadi gadis kekanakan yang setiap akhir pekan merengek minta pakaian baru di Matahari, Ramayana, dan Robinson (pada masanya, ketiga pertokoan ini sangat prestisius lho!) Atau, saya mungkin hanya menjadi gadis yang setiap ingin buku baru langsung melipir ke Gramedia. Saya tidak akan tau apa itu libgen dan berbagai situs bajakan buku lainnya karena bersama beliau, membeli buku di Periplus pasti serasa seperti membayar parkir.

Tanpa kepergian Papa, saya mungkin akan selamanya menjadi anak perempuan yang menganggap bahwa unicorn itu nyata, makan 70 ribu sepiring adalah hal murah, dan contoh kehidupan utopis lainnya yang kalau saya ingat lagi, cuma bisa bikin tertawa sendiri.

Omong-omong, saya menulis ini saat sedang duduk di Labore bersama seseorang yang sudah hampir setahun belakangan menemani saya menjalani kehidupan yang kadang senang, kadang pahit. Seseorang yang dengan kehadirannya, membuat saya bisa bernafas lebih lega dan seperti saya bilang di awal mukadimah tadi: membuat keadaan jadi 'cukup menyenangkan.'

Beberapa waktu belakangan keadaan jadi pelik. Tapi peluknya mampu membuat hal buruk reda. Guruh kekecewaan dalam pikiran, pekik ketidakadilan, dan segala carut-marut mendadak senyap setiap kali saya melihat guratan senyum dan merasakan genggaman tangannya. Saya kemudian baru ingat kalau dulu, ada Papa yang biasa menenangkan saya setiap kali saya merasa hidup begitu jahat.

Beliau sudah tiada, tapi saya berterima kasih pada Tuhan karena memberi pengganti yang sungguh begitu baik. Sangat baik. Terlalu baik, bahkan. He is too good to be true. But there he is; sitting right next to me while we are listening to Grow As We Go by Ben Platt yang dimainkan oleh Labore.

Sebenarnya, hello-father adalah sebuah usaha untuk berdamai dengan diri sendiri dan kehidupan. Tadi saya bilang bahwa kehadirannya adalah sesuatu yang "too good to be true" and a friend of mine once told me "when things are too good to be true, maybe they truly are too good to be true." Sialnya, dulu saya tidak terlalu percaya. Namun, kini saya percaya. Beberapa hal memang hadir dalam wujud yang sangat manis, baik, dan hampir A+ untuk bisa kita jadikan perbakalan menghadapi kesukaran di masa yang akan datang.

Saya baru saja melalui masa sulit yang jadi alasan kelahiran hello-father.
Sempat merasa direndahkan, disepelekan, dan dianggap tidak cukup baik karena saya perempuan yang pulang malam. Perempuan yang pernah berada di posisi buruk dan selamanya dicap buruk. Seakan masa depan saya akan selamanya suram. Padahal, ada alasan tersendiri atas tindakan yang saya lakukan.

Saking tidak tau lagi harus mengadu kemana, saya sampai berpikir bahwa keadaan saya yang kurang baik ini karena papa meninggalkan saya.

Andai beliau masih ada, mungkin saya akan jadi perempuan rumahan yang hidup enak, tidak harus pulang malam mencari uang dan memperkuat relasi. Tidak harus kerja 10 jam sehari menjaga stan jus yang blendernya berat sekali serta harus bisa angkat galon dan seplastik besar es batu kristal. Mungkin saya tidak harus berdesak-desakan dengan jurnalis lain untuk mengejar 300 kata penuh klik bait. Mungkin saya masih bisa mandi air hangat sepulang kuliah, diantar jemput, dan tidak perlu memikirkan biaya listrik air di rumah. Mungkin, kalau beliau masih ada, saya ndak akan ketemu mamas dan kebersamaan kami tidak perlu menyakiti hati siapapun.

Tapi, mungkin hanyalah mungkin dan yang hilang pasti diganti. Tuhan tidak pernah mengambil sesuatu untuk diganti dengan sesuatu yang menyedihkan. Ia pasti memberi pengganti yang lebih baik.

Tapi, untuk menuntaskan tanya dalam kepala dan mengobati perasaan dipandang sebelah mata, izinkan saya menghidupi hello-father dengan cerita maupun pengandaian saat papa masih hidup.

Mari berimajinasi!
Sebab kadang hidup terlalu keji untuk dijalani.


Malang,
9 Oktober 2019.
4.20 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

McD Watugong

Dulu, pernah akrab dengan McD Watugong, adzan subuh, obrolan bergizi seputar pergerakan kanan kiri, ide kontribusi pada negeri, taktik branding agar jualan tak merugi, serta tidak lupa mengomentari trend modern love anak muda yang kerap bikin geleng-geleng sendiri. Dulu, sering pulang pagi dan kedinginan karena harus nyetir pulang ke Singosari. Tapi tidak menyesal sedikitpun karena semuanya mengantarkan saya hingga titik sekarang. Dari pertemuan dan obrolan-obrolan itu, saya belajar untuk terus menjalin relasi, mempertajam intuisi, dan menggali ilmu selagi mampu. Tapi, setiap orang punya cara dan privilege-nya sendiri dalam menciptakan "peluang" Bagi yang terlahir dari keluarga super mapan, akses untuk ekspansi bisnis pastilah mudah. Funding bukan menjadi masalah. Nggak perlu begadang nyari kerja frilens ngalor ngidul untuk memperkaya CV, karpet merah sudah di depan mata. Namun bagi yang terlahir dari keluarga menengah ke bawah, mencuri hati recruiter harus diraih dengan...

I would hate you if I could

I would hate you, I would hate you if I could. But, before I hate you like you hate me, I would like to ask a question: Has any of your hate made your life better? Because my father never teach me to hate people based on religion, race, wealth, gender, sexual orientation, careers, and another society structures. OR even teach me to hate people based on MY OWN FEELINGS ONLY. Tapi entahlah ya. Mungkin memang ada orang-orang yang bahan bakar kebahagiaan dan semangat hidupnya terbuat dari api kebencian. Cara memadamkannya? Diguyur kebaikan dan kebaikan teruuus. Pertanyaannya, "Walau kering, bisakah saya tetap membasuh? Atau tetap mengobati walau membiru?" Bisakah?

Tuhan, earphone, dan naik haji di RCTI

Selain meyakini bahwa bumi itu bulat, dan kecoak adalah makhluk luar angkasa karena ahli banget bersembunyi setelah ketauan kita pandangi, saya juga meyakini beberapa hal lain. Salah satunya adalah, "kedalaman seseorang pada agama akan membuatnya menjadi makhluk yang mampu menghargai orang lain." Sebab, agama ada sebagai cahaya, bukan malah mendorong ke sisi gelap. Agama hadir sebagai petunjuk, bukan membuat seseorang terpuruk. Agama mengajarkan kita untuk berbuat baik. Misal: menuntun orang lain yang masih belum cukup baik. "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)". QS. Ar-Rahman: 60 Tapi pada praktiknya, semakin dalam seseorang dalam memahami agama, kebanyakan malah menganggap dirinya sudah suci dan jauh lebih baik sehingga tidak mau menuntun orang lain yang belum cukup baik. Pada praktiknya, semakin sering seseorang ke tanah suci, semakin renggang hubungannya dengan relasi karena sepulangnya dari tanah suci, mereka sibuk mencaci. "Ah kamu k...