Langsung ke konten utama

Toko Buku

6:45 pm

H-5 menuju usainya pameran buku yang selalu saya tunggu setiap tahun. Tempat di mana saya bisa membawa pulang puluhan buku berharga puluhan ribu, dari harga aslinya yang mahal sekali. Mungkin, setara dengan jatah beasiswa bidikmisi atau harga kamar kos sederhana di gang sempit kerto-kertoan.

Rengekan saya untuk minta ditemani ke pameran buku tersebut sudah dimulai sejak akhir September, ketika saya tahu BBW akan mampir ke Surabaya di bulan Oktober ini. Selain Folk Music Festival, 'ibadah haji' saya lainnya adalah thawaf mengitari rak demi rak di JX International Expo tempat BBW dihelat. Sayangnya, sejak September hingga H-5 ini, mamas tidak kunjung menemukan solusi atas perizinannya yang lebih sulit dari perizinan VISA. Mulai dari kendala akomodasi (kereta tidak cocok karena kemalaman) dan kendala ini itu, belum mencapai titik temu. Sebenarnya, Surabaya-Malang bukanlah perjalanan yang jauh-jauh amat. Hanya 1 jam 45 menit jika naik sepeda motor, dan 1 jam 30 menit jika lewat tol. Sayangnya, mamas adalah tipe orang yang mudah masuk angin, terlebih jika mengendarai motor dalam waktu yang cukup lama. Sementara untuk akses mobil, tidak semudah itu. Harus izin ibu negara dan keperluan izinnya tidak boleh keluar berdua. Ya, namanya juga konservatif.

Saya tiba-tiba sedih dan berandai-andai bagaimana misalnya kalau Papa masih ada. Kalau beliau masih ada, pergi ke toko buku tiap minggu sudah menjadi kebiasaan kami. Karena beliau tidak pintar-pintar amat, beliau sadar bahwa saya harus tetap haus dan lapar akan ilmu pengetahuan. Jadilah saya setiap minggu wajib membeli buku baru. Kala itu, mama saya yang bertugas melakukan kurasi pada buku-buku yang saya pilih. Dilepas di Gramedia, Lotus, atau toko buku lain pada masa itu membuat saya serasa dilepas di Playground. Saya ingat betul, di setiap lorong buku yang berjejer dengan topiknya masing-masing itu, saya selalu membayangkan sesosok orang sesuai dengan topiknya. Misal, ketika menyusuri lorong anime/komik, saya seakan sedang mengobrol dengan Conan, Sinchan, dan Doraemon. Ketika melewati buku sejarah, saya seakan turut melihat panglima perang, komando, dan berbagai figur sejarah lainnya. Ketika melewati buku agama, saya melangkah lebih berhati-hati seakan lorong buku itu penuh dengan benda suci.

Dulu, sewaktu papa masih ada, wangi kamar saya bukan terbuat dari Stella maupun pengharum ruangan lain, tapi berasal dari aroma buku baru yang bisa dibilang cukup tebal untuk anak seumuran saya. 6 Tahun, kali pertama saya memilih buku saya sendiri. Saya mengambil buku Enid Blyton; Sapta Siaga atau dalam bahasa inggrisnya "Secret Seven" dan berkat Enid, kosakata saya hingga sekarang sering dibilang aneh karena tak lazim dipakai orang.

Dulu, membeli buku baru tak perlu menunggu diskon.
Dulu, berpindah-pindah dari satu toko ke toko lain rasanya enteng sekali karena Papa selalu ada di balik kemudi. Siap mengantar kemanapun saya ingin membeli buku.

Mungkin, sekarang saya harus berjalan sendiri. Tidak bisa minta mamas untuk menemani karena memang dia tidak terlalu suka buku. Gapapa, yang penting suka aku.
Tapi tetep saja menyebalkan.
Tapi gapapa.
Huh.
Dasar aku bucin -__-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

McD Watugong

Dulu, pernah akrab dengan McD Watugong, adzan subuh, obrolan bergizi seputar pergerakan kanan kiri, ide kontribusi pada negeri, taktik branding agar jualan tak merugi, serta tidak lupa mengomentari trend modern love anak muda yang kerap bikin geleng-geleng sendiri. Dulu, sering pulang pagi dan kedinginan karena harus nyetir pulang ke Singosari. Tapi tidak menyesal sedikitpun karena semuanya mengantarkan saya hingga titik sekarang. Dari pertemuan dan obrolan-obrolan itu, saya belajar untuk terus menjalin relasi, mempertajam intuisi, dan menggali ilmu selagi mampu. Tapi, setiap orang punya cara dan privilege-nya sendiri dalam menciptakan "peluang" Bagi yang terlahir dari keluarga super mapan, akses untuk ekspansi bisnis pastilah mudah. Funding bukan menjadi masalah. Nggak perlu begadang nyari kerja frilens ngalor ngidul untuk memperkaya CV, karpet merah sudah di depan mata. Namun bagi yang terlahir dari keluarga menengah ke bawah, mencuri hati recruiter harus diraih dengan...

I would hate you if I could

I would hate you, I would hate you if I could. But, before I hate you like you hate me, I would like to ask a question: Has any of your hate made your life better? Because my father never teach me to hate people based on religion, race, wealth, gender, sexual orientation, careers, and another society structures. OR even teach me to hate people based on MY OWN FEELINGS ONLY. Tapi entahlah ya. Mungkin memang ada orang-orang yang bahan bakar kebahagiaan dan semangat hidupnya terbuat dari api kebencian. Cara memadamkannya? Diguyur kebaikan dan kebaikan teruuus. Pertanyaannya, "Walau kering, bisakah saya tetap membasuh? Atau tetap mengobati walau membiru?" Bisakah?

Tuhan, earphone, dan naik haji di RCTI

Selain meyakini bahwa bumi itu bulat, dan kecoak adalah makhluk luar angkasa karena ahli banget bersembunyi setelah ketauan kita pandangi, saya juga meyakini beberapa hal lain. Salah satunya adalah, "kedalaman seseorang pada agama akan membuatnya menjadi makhluk yang mampu menghargai orang lain." Sebab, agama ada sebagai cahaya, bukan malah mendorong ke sisi gelap. Agama hadir sebagai petunjuk, bukan membuat seseorang terpuruk. Agama mengajarkan kita untuk berbuat baik. Misal: menuntun orang lain yang masih belum cukup baik. "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)". QS. Ar-Rahman: 60 Tapi pada praktiknya, semakin dalam seseorang dalam memahami agama, kebanyakan malah menganggap dirinya sudah suci dan jauh lebih baik sehingga tidak mau menuntun orang lain yang belum cukup baik. Pada praktiknya, semakin sering seseorang ke tanah suci, semakin renggang hubungannya dengan relasi karena sepulangnya dari tanah suci, mereka sibuk mencaci. "Ah kamu k...